Monday, March 11, 2013

Siluet senja

Siluet senja

Senja..
Langit jingga
Kulihat siluetmu, semu
Sebuah refleksi dari jiwa yang enggan
Jiwa yang hanya hidup dalam keraguan
Jiwa yang hanya memikirkan kemenangan
            Senja..
            Langit jingga
            Sang mega yang menjadi saksinya
            Ambisimu tentang kemenangan
            Begitu cepat kau ajarkan
            Kau suruh aku jadi pemenang
Senja..
Dua siluet manusia
Aku.. kamu..
Lalu, apa yang kau ajarkan padaku ?
Ideologi tentang kemenangan
            Senja..
            Satu siluet mengikuti siluet lainnya
            Aku.. bertanya
            Apa arti kemenangan bagimu?
            Segalanya .
            Kau balik bertanya
            Apa arti kemenangan bagimu?
Senja..
Yang ada hanyalah siluet yang diam
Jangan balik bertanya !
Tentang kemenangan, yang kau tanyakan..
.
.
.
Namun, nyatanya…
Aku, belum jua memenangkan hatimu
            Senja..
            Kedua siluet diam,
            Disaksikan langit yang jingga..
                                                                                                            #(van Giezt)


Monday, February 25, 2013

Little Netherland….. seiring salju yang turun di hati kami..


            Awal Januari 2013..saat musim dingin tiba di seantero Eropa, beberapa mahasiswa dan mahasiswi negeri Bhinneka Tunggal Ika sedang menanti masa ujiannya. Seperti halnya kami, menjelang UAS semester genap tahun ini bukannya mendiskusikan tentang ujian justru asyik merencanakan liburan. Dari jauh-jauh hari, akhirnya kami menentukan pilihan tempat yang akan kami kunjungi.
            Kali ini kami ingin mengunjungi “Oudestad” di Little Netherland. Kami pun mempersiapkan segala sesuatunya. Hingga menjelang harinya tiba, kami sempat bingung karena rupanya tiket penerbangan telah habis terjual. Rupanya bulan-bulan ini sedang nge-trend berlibur ke “Eropa”, salah satunya ya “Little Netherland” ini. Sampai akhirnya kami pun mencoba mencari maskapai lain untuk pemberangkatan ke Oudestad.
            H-1 berbagai keperluan telah kami persiapkan. Keesokan harinya kami memulai perjalanan, tidak tanggung-tanggung kami pun harus berjalan kaki menuju bandara. Selama perjalanan pun kami juga harus bersabar karena harus transit di suatu bandara. Sepanjang perjalanan kami berdoa semoga salju tidaklah turun terlalu banyak, mengingat barang bawaan yang kami bawa seperlunya saja. Ini bukanlah liburan panjang, kami sedang memulai debut kami ber-backpaker-an.
            Setelah perjalanan yang cukup panjang pun kami sampai di tempat tujuan. Dan saat itulah salju perlahan turun, turun makin deras. Karena beberapa hal, salju pun ikut menyusup ke hati yang terdalam, bersyukur kami masih diberi kekuatan untuk tetap melanjutkan perjalan. “Oudestadt” yang menjadi tujuan utama kami, ternyata masih lumayan jauh. Di tengah dinginnya salju kami pun berjalan entah beberapa kilo jaraknya. Perjalanan itu pun terbayar sudah ketika kami benar-benar sampai di Oudestad. Kami pun segera menikmati berbagai pemandangan khas Oudestad, yang perlahan demi perlahan mampu menghangatkan dan mencairkan salju yang turun…di hati kami.
(bangunan dan salah satu foto di Peek House, kawasan Oudestad- Little Netherland)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Begitulah kiranya sekilas cerita perjalan liburanku kali ini bersama teman-teman. SSSTTTTTTT, jangan kuatir ni aku kasih bocorannya. Bermodal nekat dengan biaya seadanya kami mencoba menelusuri “Eropa”. Tapi jangan kecewa dulu ya, Eropa - “Little Netherland”- yang kami maksud adalah sebuah kota tua di Semarang. Kota ini merupakan salah satu kota tua peninggalan zaman Belanda yang masih ada  hingga saat ini. Hm.. jangan berhenti baca dulu ya, mentang-mentang udah tahu kalau Little Netherland itu “cuma” di Semarang.
Sudah saatnya kita juga mengagumi wisata yang ada di negeri kita ini lho !!

 Jadi, begini ceritanya.. Salah satu teman merekomendasikan sebuah temapat jalan-jalan yang notabene bagus “view”nya. Mendengar kata Little Netherland, rasanya jiwa ini langsung tertarik. Why? Ya secara minat aku berharap suatu saat aku akan pergi ke Belanda. Aamiin, jadi ga ada salahnya kalau mencoba menikmati suasana Belanda di negeri Indonesia sendiri, istilahnya pemanasan.
Mumpung di Semarang ni, kami ga akan melewatakn kesempatan untuk mengunjungi tempat wisata lainnya. Akhirnya kami putuskan untuk mengunjungi Lawang Sewu dan kota tua alias “Oudestad” tadi. Tak tanggung-tanggung kami benar-benar meminimalkan biaya sebisa mungkin. Berhubung kehabisan tiket kereta api, sudah tentu kami beralih dengan maskapai jalur darat lainnya-bus.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Lawang Sewu. Mungkin beberapa di antara teman-teman pembaca sudah banyak yang mengunjungi tempat ini. Lawang sewu, dulunya adalah stasiun kereta api pada masa kolonial Belanda. Jujur, lupa kapan dibangunnya, yang jelas mas guidenya yang hafal, hehe. Usut punya usut nih, yang katanya Lawang Sewu tu angker, dulunya pada masa penjajahan Jepang Lawang Sewu ini disalah gunakan menjadi penjara dan tempat pembantaian orang, hii…

Keluar dari sejarah kelam itu, kalau menurutku pribadi Lawang Sewu menjadi salah satu bangunan dengan desain yang luar biasa kreatifnya. Tempatnya sangat sejuk karena memanfaatkan AC alam (angin). Uniknya lagi, bangunan bawah tanah dari gedung ini yang dulunya digunakan sebagai drainase, airnya sampai sekarang masih ada. Tapi kami tidak mengunjungi tempat itu, selain takut basah, ngeri man, banyak tikus dan mungkin banyak hal yang tidak dapat diprediksi di sana. Sayangnya, waktu itu kami tidak dapat mengunjungi gedung secara keseluruhan karena sedang direnovasi. Tapi tetap, banyak kenangan dari sana.
(suasana Lawang Sewu dan Kota Tua)

Bisa dibilang perjalanan kami juga tidaklah mudah. Tiga cewek tanpa bodyguard atau apapun melakukan perjalanan di kota yang asing bagi kami. Dengan berbagai hal, petualangan, dan panas terik (koreksi: bukan salju), kami pun sampai di kota tua yang memang jadi tujuan awal kami. Apalagi kalau bukan foto-foto. 

Alih-alih langsung menemukan kota tua, karena kekurangtahuan kami, kami pun naik angkot yang rencananya mau ke klenteng Tai Kak Sie. Setelah jauh berjalan, yang kami dapati waktu itu adalah suasana klenteng yang sepi (klenteng yang ramai pengunjung adalah Sam Po Ko, tapi berhubung jauh ya yang dekat saja yang dikunjungi). Klenteng Tai Kak Si ini terkenal dengan bangunan kapal Ceng Ho di depannya.
(@klenteng Tai Kak Sie)

Setelah nggak jelas mau ngapain di tempat itu, lagi-lagi kami mengikuti si peta ( ala-ala dora ) akhirnya kami sampai di kota tua. Benar saja di sana kami langsung menjumpai bangunan-bangunan tua khas Eropa kuno. Yang paling terkenal di daerah itu adalah Gereja Blenduk. Arsitektur-arsitektur kota tua menjadi background indah dalam perjalanan yang cukup panjang ini. Oh ya, tak lupa kami juga mengunjungi stasiun Tawang, dekat kota tua. Stasiun ini juga menjadi salah satu ikon Kota Tua Semarang.

Hari semakin gelap, dan udara menjadi benar-benar dingin (tapi bukan salju ._.V). Karena kereta kami berangkat jam 01.00 malam, kami pun menunggu di stasiun Poncol. Tak lupa kami makan-makan dulu. Bagian yang paling mengesankan ya ini ni. Menunggu kereta datang, di bela-belain nggak tidur dan ternyata kereta baru datang sekitar 02.30. Di antara kami bertiga yang belum tidur sama sekali ya siapa lagi ,kalau bukan aku, hehehehe…. #nasib.

Akhirnya di kereta pun semua terkapar karena ngantuk berat, capek jalan, dan lapar. Kami sudah berencana untuk tak langsung pulang ke Jogja, tapi main-main dulu ke Solo. Sampai di Solo yang pertama kali kami cari adalah kamar mandi umum, rasanya badan nggak enak semua, pengen mandi. Apesnya kamar mandi dekat masjid belum buka. Syukurlah ada seorang ibu yang baik hati mengantarkan kami ke kamar mandi umum dekat pemukiman penduduk.
Sebelum melanjutkan perjalan kami sarapan nasi liwet, lalu melanjutkan perjalanan ke keraton solo. Tapi detailnya nggak akan ditulis di sini, langsung saja bisa dilihat dari foto-foto ini.
(@Solo, Keraton Solo)

#####yang jelas, perjalanan ini nggak akan terlupakan. Meski menurut orang lain biasa-biasa saja, tapi, kami punya kenangan tersendiri….
meskipun masih “Little Netherland”, aku, kami punya keyakinan bahwa kelak kami akan sampai di “The Real Netherland”
Untuk teman-temanku dalam perjalanan ini, makasih ya untuk semuanya , untuk setiap tawa, suka, duka, kenangannya….
Semoga di lain kesempatan kita bisa membuat perjalan yang lebih mengesankan dari ini. Aamiin. Semoga perjalan ini membuat kita semakin akrab.
Dank je Hanna !, Dank je Azizah ! J #####

Rincian jadwal dan biaya
17 Januari 2013
6.15                 : trans jogja ke terminal jombor (Rp.3000,-)
6.30-                : bus ke Semarang (Rp.20.000,-)
                          transit Banyumanik, bus ke lawang Sewu (Rp.5000,-)
11.45               : tiket lawang sewu (@Rp.20.000,-) +                                                                                       Guide(Rp.30.000)à@orang=Rp.30.000,-
13.00-18.00     : jalan-jalan di klenteng Tai Kak Sie dan Kota Tua
19.00-              : makan malam (Rp.7500,-)
20.00-02.30     : menunggu kereta malam
18 Januari 2013
02.30-05.30     : perjalanan ke Solo
07.00-              : ke keraton Soloà tiket (@Rp.10.000,-), bus(Rp.3000,-)
11.30-              : pulang ke Jogjaà tiket bus+kereta (Rp.13.000,-)
14.00               : tiba di Jogja
Total @orang +biaya lain-lain Rp.150.000,-

Tips:
1. bawa bekal (nasi/snack)
2. sedia peta, biar ga nyasar
3. bawa antimo/ obat anti mabuk perjalanan, minyak kayu putih(obat pribadi)
4. tidak membawa barang berharga
5. manajemen waktu yang baik, termasuk memilih transportasi yang tepat
6. banyak bertanya pada orang (malu bertanya, sesat di jalan)
7. bawa jaket
8. bawa payung(jaga-jaga kalau tiba-tiba hujan
9. hati-hati dalam segala hal dan saling care pada teman perjalanan
10. jangan lupa berdoaàthe most important !!!!!




Tuesday, January 1, 2013

Tradisi tahun baru di Belanda

Pada malam tahun baru orang Belanda menikmati "Oliebollen" (donat Belanda) dan menyalakan kembang api.

Bersama keluarga, tetangga, kawan atau kolega, orang Belanda akan melewati malam tahun baru dengan mengobrol, makan oliebollen, sembari menunggu jarum jam melampaui pukul 00.00. Makan Oliebollen dipercaya melambangkan keberuntungan. Maka tak heran pada hari-hari sekitar tahun baru 82% orang Belanda mengkonsumsi makanan manis ini (data Centraal Bureau voor Levensmiddelenhandel (Biro Pusat Perdagangan Bahan Makanan)). :)


#dari berbagai sumber

Saturday, December 29, 2012

TIPS : JALAN PINTAS MENGHAPUS INBOX YAHOO


Sebel karena email yahoo-mu penuh dengan inbox??
Dari beberapa sumber, writer mendapat tips nih..
disesuaikan dengan tampilan terbaru Yahoo..
Check this out !!

1.  Masuk (log-in) akun yahoo-mu
2.  Pilih menu setting-mail option (lihat gambar dengan lingkaran merah)

3.  Pada option show messages pilih 200 messages per page, dengan cara ini inbox-mu akan menampilkan 200 pesan sekaligus dalam 1 halaman.

4.  Setelah itu kembali ke inbox (kotak masuk), lalu tandai semua pesan dengan memilih “All”

5.  Selanjutnya tinggal pilih” Delete” dan “OK”

      Dengan cara ini akan menghemat waktu menghapus banyak email dengan beberapa klik saja. Jadi, lebih cepat daripada tampilan 25 pesan per halaman.


6.  Jika ingin menghapus Trash juga sangat mudah
Langsung saja pilih Trash-Empty the Trash folder-OK

#Mudah kan J  Selamat mencoba !!

Friday, December 28, 2012

The Sounds of Falling in Love (part 1)

"menulislah saat kamu ingin menulis,
katakanlah saat kamu ingin mengatakan.."
dan inilah yang kutulis
sebuah puisi..


Aku jatuh cinta..
Entah saat pertama atau kesekian kali melihatnya
Aku
Aku jatuh cinta
Pada senyum dan keceriaannya
Aku jatuh cinta
Diiringi selorohan kawan-kawanku
Melangkah malu-malu di hadapannya
Malu-malu menatapnya
Aku jatuh cinta
Berpura-pura sulit mengenalnya
Aku takut
Tak berani menyapa di sekeliling kawan-kawannya
Tak berani berkata meski berjabat tangan dengannya
Mengamatinya diam-diam..
Sampai pada waktu yang memisahkan,
dengan segala macam perasaan
. . . . . . . . . .
Aku masih ingat betul
Detail-detail perkenalanku dengannya
Sial, aku mengingatnya dengan jelas !
. . . . . . . . . .
Dia kembali,
dan jujur, aku merindukannya
Dengan senyum dan keceriaannya
Dia kembali
Menawarkan cinta yang sesungguhnya..
Aku
Aku pun masih jatuh cinta
Menumbuhkan semangat dalam jiwa
. . . . . . . . .
Waktu pun berjalan,
terus berjalan
Aku tersenyum mengenangnya
Tertawa, karna masih mengingat detailnya
. . . . . . . . .
Ya, kini aku rasa
“Aku pernah jatuh cinta padanya”
Berawal dari sebuah jendela..

*to be continued

Thursday, December 27, 2012

Spesial Hari Ibu : 22 Desember 2012


Ibu, bunda, mom, mama, mami,mother, mutter, emak, oka-san, omeo-ni, …

Dan entah bagaimana cara kita memanggilnya, yang jelas itu yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita, jika ditanya sosok wanita yang paling berarti dalam hidup kita. Tapi sayang, beberapa orang akan punya jawaban yang berbeda.
Kalau bagiku, ada rasa syukur tersendiri karena aku bisa memilikinya sejak aku lahir hingga saat ini..dan selanjutnya..

            Meski kita semua tahu pasti ada saat-saat di mana kita merasa jengkel, marah, kangen, dsb.
Tak jarang kita berdebat dengannya, entah masalah apa yang diperdebatkan. Perhatian ibu yang kadang terasa berlebihan untuk ukuran kita yang sudah beranjak dewasa,  kadang terasa aneh. Semua hal yang dipertanyakan seringkali membuat kita jengkel. Tapi.. saat beliau jauh dan jarang berkomunikasi, rasa rindu selalu menghinggapi hati kita.
Seringkali pula kata mujarab yang membuat kita meneteskan air mata adalah “ibu”. Di mana pun mita mendengarnya, hati terasa “trenyuh”. Mengingatkan betapa banyak kesalahan yang kita perbuat kepadanya.

            Kita seringkali tak menyadari bahwa orang yang paling perhatian di dunia ini adalah beliau. Perhatian yang lebih itu tak dimaksudkan apa-apa selain sebagai bentuk kasih sayangnya pada kita. Apalagi untuk anak perempuan. Seorang ibu akan selalu menyimpan kekhawatirannya untuk anak perempuannya. Bagaimana tidak ?? Setiap ibu suatu saat pasti akan menemui waktu di mana ia harus berpisah dengan anak perempuannya. Rasanya masih kemarin beliau menimang kita dalam pangkuannya, namun dalam sekejab anak perempuannya telah beranjak dewasa. Anak perempuan yang seolah-olah kemarin masih tertidur dalam gendongannya, sekarang sudah menjadi penamping hidup seorang pria.

Inilah kekhawatiran terbesar baginya. Bukan masalah pernikahannya. Namun, bagaimana hidupnya kelak setelah menikah. Akankah benar-benar bahagia karena menikah dengan orang yang dicintainya? Ataukah puteri kesayangannya itu terpaksa terjebak dalam pilihannya sendiri?
Inilah, inilah sebenarnya kekhawatiran hati seorang ibu. Seorang ibu tak pernah mengharapkan hal buruk terjadi pada puterinya. Seorang ibu selalu mengharapkan yang terbaik untuk puterinya.

            Ketika mulai ada yang mencoba mengenal puterinya, beliau pasti akan bertanya-tanya. Semakin dewasa puterinya beliau akan semakin waspada. Kekhawatiran terbesarnya, kadang tak pernah kita sadari. Beliau sama sekali bukan pemilih.
Percayalah, beliau selalu mengharapkan yang terbaik untuk kita.

Kalaupun beliau cerewet dengan segala nasehatnya, perhatian yang berlebih, dan lain-lainnya..percayalah kelak kita akan merindukan ini semua.

            Percayalah cinta yang paling besar adalah cintanya, melebihi cinta dari siapapun..pahami itu ketika kamu sedang jatuh cinta.. Ibu telah rela mengorbankan nyawanya untuk melahirkan malaikat kecil ke dunia(putera-puterinya).
            Dan..teruntuk sahabat semua yang mungkin belum berkesempatan bertemu dengan ibu, ada masalah dengan ibu.. Percayalah, siapa pun, di mana pun, kapan pun beliau selalu memiliki cinta untuk sang ananda. Janganlah membecinya, karena nan jauh di sana beliau selalu menyimpan rindu untuk ananda.
Jika kalian punya suatu masalah, bicarakanlah.. Ibu akan selalu mendengar kita.




#Sedikit kutipan dari film “A Long Visit”:
“When ever I had a hard time, mom always told me. If I cry she cried more. If I was upset, her heart was ripped to pieces. That’s how mother is.”

Sunday, December 23, 2012

“ You Cook, I Eat “ Perjalanan Sejarah Makanan


Kamis, 20 Desember 2012 @ Taman Budaya Yogyakarta

            Hari ini menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan. Kurang lebih seminggu yang lalu kulihat poster di papan pengumuman MU (baca : MIPA Utara UGM) tentang event pameran makanan. Awalnya, kukira bakal ada pameran makanan atau jajanan dan sebagainya, mengingat temanya adalah “You Cook, I Eat”. Karna nampaknya event ini menarik, aku pun mengajak temanku, Hanna dan Ula untuk berkunjung ke pameran itu. Dan karna sesuatu hal,  aku hanya pergi dengan Hanna.
            Perjalanan dimulai saat matahari benar-benar terik. Dengan bus jalur 4, akhirnya kami sampai di jalan Malioboro, tepatnya di sekitar pasar Beringharjo. Turun dari bus kota, kami berjalan kurang lebih 200 meter untuk sampai di Taman Budaya. Jalan menuju Taman Budaya bisa dibilang ramai, maklum karena masih termasuk dalam kompleks pasar Beringharjo. Hanya beberapa menit akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Taman Budaya masih nampak sepi, belum banyak pengunjung. Di pintu depan terdapat spanduk bertuliskan nama event ini. Akhirnya, kami menitipkan tas di pintu masuk dan segera bergegas ke tempat pameran.
Pintu masuk tempat pameran dihias dengan jerami-jerami padi serta memperlihatkan nuansa bertemakan pertanian.
            Awalnya kami mengira akan ada stand-stand makanan di dalam, namun setelah menelusurinya…yang kami jumpai ternyata lebih menarik daripada makanan. Pemandangan pertama tertuju pada kebun mini yang ditampilkan tepat di hadapan pintu masuk. Pada kebun mini itu terdapat berbagai tanaman sayuran seperti terong, bayam, seledri, dsb. Dari kiri pintu pameran disuguhkan bermacam-macam alat-alat makan dan alat-alat masak tempo dulu. Pada dinding dihiasi dengan berbagai lukisan bertemakan pertanian, makanan, dan sejarah perkembangan budaya tentang makanan. Tidak hanya sejarahnya di Indonesia, tapi juga negara lain, terutama era Belanda dulu.
            Bagi penikmat barang-barang antik dapat menjumpainya di setiap etalase yang ditempatkan di berbagai sudut ruang pameran. Alat-alat makan dan alat-alat masak dari Indonesia, Cina, dan Eropa ada di sini. Berbagai miniaturnya juga ikut dipajang. Banyak lukisan dan gambar yang bertemakan makanan menghiasi ruang pameran. Bahkan ada juga bungkus makanan tempo dulu yang ikut di pajang yang menunjukkan perkembangan berbagai produk makanan yang ada saat ini.

( Foto : @ruang pameran )

            Di bagian barat ruang pameran terdapat bermacam-macam tungku dengan bahan bakar khas. Ada tungku dengan bahan bakar kayu, ada juga limbah bekas penggergajian kayu dan arang.
Di sudut utara ruang pameran, tak jauh dari tungku-tungku ini ada miniatur dapur tradisioanal beratap daun kelapa kering (baca: blarak, bahasa jawanya). Yang menarik adalah di “pondok” dapur itu juga dilengkapi dengan alat masak lengkap. Tungku kayu, dandang tembaga, dll (kalau disebutin satu-satu susah, karena menggunakan istilah dalam bahasa Jawa). Di depan pondok itu juga terdapat berbagai contoh rempah-rempah. Maklum, zaman sekarang ini sangat jarang generasi muda yang mengetahui secara pasti bentuk rempah-rempah meski sudah sering mendengar namanya. Dari pameran seperti inilah, pengunjung akan semakin tahu tentang aset berharga negeri ini yang selama masa penjajahan menjadi perebutan bangsa-bangsa asing.

            Masuk ke pondok dapur itu, suasana tradisional makin terasa. Berbagai bahan makanan digantung di atap dapur seperti tradisi masyarakat tradisional. Bagiku, rasanya seperti sedang pulang ke kampung halaman, tepatnya ke rumah mbah bertahun-tahun yang lalu. Bahkan di dekat dinding luar pondok dapur juga disandarkan alat bajak tradisioanal yang terbuat dari kayu. Hal ini makin melengkapi nuansa pertanian di Indonesia, yang sampai saat ini juga masih diterapkan di berbagai daerah. Suasana pedesaan makin terasa dengan pohon-pohon pisang yang di tempatkan di kanan-kiri pondok dapur. Dari jauh pondok itu seperti dibangun di tengah-tengah kebun, tempat petani mencari penghidupannya melalui bercocok tanam.

( Foto: dapur tradisional )

            Setelah puas berfoto di area pondok, kami pun meneruskan berkeliling. Di tengah ruang pameran ternyata juga ada kebun mini lagi. Di kebun mini itu ditanami padi. Pertama masuk, kami tak tahu dari mana kicauan burung yang turut serta menghidupkan nuansa pertanian ini, dan ternyata… burung-burung pipit memang sengaja diikut sertakan dalam pameran ini. Burung-burung itu hinggap di padi-padian (persis seperti suasana di persawahan). Selain yang sudah kutulis lagi sebenarnya masih banyak yang dapat dijumpai di pameran ini, seperti majalah-majalah lama yang memuat menu-menu makanan tempo dulu dan juga berbagai macam cangkir bir yang digunakan di Eropa. Akhir dari ruang pameran ini adalah tempat di mana terdapat miniatur perairan tradisional. Seperti suasana perairan di pedesaan yang juga dilengkapi dengan hiasan-hiasan bambu.

            Masih penasaran dengan tema event ini, kami pun menyusuri apa yang bisa di dapat di luar ruang pameran. Hari pun semakin sore, Taman Budaya mulai ramai pengunjung. Teras taman Budaya mulai ramai dengan para pedagang, baik yang menjual makanan maupun souvenir. Di teras inilah ternyata, tema “You Cook, I Eat” mulai terasa. Beberapa pedagang menjual produk makanannnya. Ada juga semacam presentasi pembuatan tempe dari Museum Tani. (lihat foto di bawah ini)

( Foto: presentasi pembuatan tempe Museum Tani )

            Sebagai pelengkap kunjungan kami ke pameran ini, kami membeli beberapa souvenir. Souvenir yang dijual cukup beragam dan menarik. Ada juga stand yang sengaja menjual macam-macam mainan tempo dulu(mengingatkan saat masa-masa SD dulu) (baca: bongkar pasang, kipas kertas, yoyo, dan apa ya namanya aku lupa-balon tiup yang wadahnya seperti cat air -_-”, dll).

( Foto : souvenir-kerajinan flannel )

            Jadi, intinya sulit diungkapakan dengan tulisan ini, yang jelas pameran seperti ini merupakan pameran yang jarang bisa ditemui. Banyak sisi positif dari pameran ini selain sebagai acara mengisi waktu luang di tengah kesibukan kuliah. Pameran ini dapat menjadi media generasi muda terutama untuk mengetahui perkembangan pangan Indonesia dan negara lainnya. Tak hanya itu, untuk sebagian orang juga dapat mengetahui secara langsung bahan-bahan masakan tradisional, bukan sebagai bumbu instan yang banyak dijumpai di toko dan supermarket. Bagi pengunjung yang rindu dengan masa kecil yang banyak terlupakan karena kecanggihan teknologi, juga dapat memenuhi rasa rindunya di pameran ini.
            Menurutku, pameran seperti ini sangat menarik, ya meski belum sepenuhnya mengikuti serangkaian acaranya. Konon, baca di koran, akan ada demo masak juga oleh Chef ternama. Pameran ini dilaksanakan mulai tanggal 16-26 Desember 2012 di taman Budaya Yogyakarta. Bagi sobat readers yang ingin melihat-lihat masih ada waktu, sekalian bisa mampir ke Benteng Vredeburg yang bangunannya tepat di belakang Taman Budaya ini. Pameran ini bisa jadi alternatif untuk mengisi akhir tahun yang bermanfaat. ^_^
            -----Hari ini merupakan kesempatan untuk belajar jadi “tour guide” mini-agro wisata, berbekal pengetahuan tentang rempah-rempah dan tradisi memasak dari kampung halaman-----
#meski kalimat per kalimat dalam tulisan ini kurang bisa mewakili keistimewaan yang ada dan terkesan kurang rapi, tapi harapannya sobat readers maupun writer sendiri bisa menuangkan kisah-kisahnya ke dalam sebuah tulisan. So, “Jadikan setiap perjalanan dan petulanganmu sebagai sebuah kenangan yang tak terlupakan, abadikan dalam sebuah tulisan, dokumentasikan dalam gambar, dan ambil setiap hikmahnya.”

Salam Semangat !!!
Er van Giezt