Thursday, June 12, 2014

Praktikum Fisika Zat Padat 2014

Waah sudah lama nggak nge-pos di blog ini...
Maklum belakangan sibuk kuliah, praktikum, dan kegiatan lainnya.
Mumpung masih semangat dengan laporan dan presentasi praktikum, sekaligus berbagi hasil praktikum, ini saya kasih link hasil praktikum kelompok kami.

 NB : Thanks to Khoirul Faiq Muzakka dan Alvi Oktavia atas kerjasamanya dalam tim ini, terimakasih untuk bantuannya teman2. ^_^
Semoga link ini dapat bermanfaat untuk semua pengunjung blog ini.

#Jangan lupa komen ya.. Dank je !

Sunday, June 8, 2014

Di balik pintu (2)

Untuk kawan-kawanku, atau setidaknya kalian yang menganggapku begitu
(Masih dari balik pintu)
Aku tak peduli lagi
Aku ditinggal sendiri
Aku membuktikan lagi
Selangkah aku maju, selangkah aku dibawa mundur lagi
Bukan karena ketidaktahuanku
Bukan karena tembokku yang sulit ditembus
Bukan karena semua itu
Dan aku takkan menyalahkanmu
Sekali lagi, aku dikendalikan prasangkaku
Bahwa aku terlalu membosankan bagimu
Aku tak tahu, apa aku sedang marah untuk itu
Dan aku masih termenung dibalik pintu
Rahasia apapun itu, aku tak perlu tahu
Jika memang aku tak perlu tahu
Aku paham, aku dan kamu
Bermain rahasia, dan aku berada di balik pintu
Aku masih dikendalikan prasangkaku
Tapi ingin memberi kunci itu padamu
Namun jua masih terdiam di situ
Perlahan, prasangkaku berlalu
Maka, maafkan aku

Jika selalu mengusikmu lewat tulisanku

Friday, June 6, 2014

Di balik pintu

Untuk kawan-kawanku, atau setidaknya kalian yang menganggapku begitu
(Ditulis sepenuh hati dari balik pintu)

Sering kubilang tak apa
Aku sudah terbiasa
Dan aku mulai kehilangan cara menikmati rasa itu apa
Selangkah aku maju mendekatimu
Selangkah pula aku dibawa mundur jauh darimu
Selangkah aku tahu
Selangkah pula aku kembali tertinggal
Aku tahu, aku terlalu kikuk menunjukkan kesetiaan dan kepedulianku
Aku terlalu banyak bicara, kadang, bila aku diberi kesempatan
Mungkin karena memang aku perlu seorang pendengar
Yang jarang kesempatan itu kudapatkan
Aku merenungimu di balik pintu,
Aku terlalu ragu untuk memahamimu
Aku bukan dia atau mereka
Yang entah bagaimana caranya, punya banyak hal yang bisa kau kagumi
Aku, seorang yang biasa saja
Aku belum cukup menginspirasi
Dan tidaklah mudah mendapat hatimu
Dan aku sadar, aku tak menginginkan hal lain
Selain menjadi diriku
Dan aku tak meminta kamu memahamiku
Kau membaca sudah cukup bagiku
Kau mendengar sudah cukup bagiku
Ya, inilah aku
Sahabat, kawanmu (jika kau menganggapnya seperti itu)
Kalaupun bukan, belum
Tapi aku sudah cukup bahagia
Ketika kamu mengingat namaku


NB : aku tidak sedang bergurau, kau pun cukup tahu dengan membayangkan ekspresiku

Friday, June 21, 2013

Salamku untuk si mata biru


Salamku untuk si mata biru

Hey, kaukah itu?!
Aku tahu, bisa merasakan senyummu
Hey, kaukah itu ?!
Mata biruku yang berada jauh
Di benua warna matamu

Hey, kaukah itu?
Yang kelak bisa menggantikanku
Menjaga si kecil yang rentan rapuh, hatiku
Yang kelak meyakinkanku
Kutahu, kupercaya itu

Tak hanya untuk
Bersuka cita denganmu
Kau
Tak hanya untuk mencari petualangan baru
Kau
Tak hanya untuk sekedar tahu
Tapi
Mata birumu meneduhkanku
Kuyakin itu
Kuucap doa permohonanku
Tuhan, pertemukan aku dengan si mata biru

Hey, kau tahu itu?
Manis senyum dan cahaya gemilang matamu
Kau
Tak hanya untuk bersuka cita denganmu
Tak hanya untuk petualangan baru
Tapi Kau
Kaulah itu, yang tulus dan sungguh-sungguh

Kini, lewat bintang kukirim salam
Salam rindu
Maka lihatlah itu
Yang berkelip-kelip di langit negerimu
Menyampaikan salamku
Kutitipkan pula puisiku
Dengarlah itu

Salam untuk cintaku, si mata biru…
Percayalah, kelak kita akan bertemu
Bertemu dengan cara yang baik, berjalan dengan baik, dan tak terpisahkan

Friday, May 31, 2013

Jawaban dari ibu

Inilah jawaban dari ibuku:
Kau bertanya padaku akan separo hatimu
Anakku, tak terasa kau sudah jauh tumbuh sejak hari kelahiranmu
Anakku, tak terasa bagi ibu
Seakan baru kemarin kau ada di pangkuanku
Kugendong dirimu yang berwajah lucu

Anakku, ibu tak pernah mempermasalahkan pilihanmu
Asal kau tahu itu yang terbaik bagimu
Anakku, ibu tak meminta lebih darimu
Selain berharap kau lebih berhasil dari bapak ibumu
Anakku, kurelakan kau merantau jauh dariku
Jauh saat kau merasa lelah dan ingin mendekapku
Ibu tak meminta lebih darimu
Ibu hanya minta kau melanjutkan apa yang telah menjadi pilihan awalmu
Selesaikanlah itu
Ibu selalu berdoa untukmu
Untuk keberhasilanmu

Anakku, jika kau ingin pulang menemui ibu
Pulanglah, ibu akan selalu menantimu
Biar kulihat wajah dewasa yang masih lucu
Kusimpan harapanku padamu
Pulanglah Sayang, peluk ibu semaumu
Jika itu mampu memulihkan kegoyahan hatimu
Jika itu mampu membantumu
Berpikir, merenung, menemukan separo hatimu

Pulanglah Sayang, jika kau mau
Jika kau rindu belaian ibu
Karena juga begitu
Ibu rindu membelai halus rambutmu
Seperti saat kau masih mungil nan lucu
Anakku, ibu tak meminta lebih darimu
Ibu selalu mendoakanmu
Pulanglah Sayang, jika kau mau
Jika itu mampu meyakinkanmu
Akan separo hatimu


#di sore hari sehabis hujan, sepulang dari sekolah ilmu alam


Bertanya pada ibu : Separo Hatiku

Sore itu
Kutanya pada ibuku
Kuungkapkan keluh kesahku
Ibu maafkanlah aku
Yang datang padamu ketika aku diterpa belenggu

Ibu, apa yang baik untukku?
Dan kusadar pertanyaan itu sudah tak pantas kuutarakan padamu
Ibu, aku dalam ragu untuk memilih satu
Satu di antara mereka-mereka yang ada di hadapanku
Satu di antara dua yang begitu memikatku
Ibu, sudah tak sepantasnya kutanyakan ini padamu
Namun, ini semua berawal dari pilihanku
Dan pilihan akhir ada di tanganku

Ibu, maafkanlah aku
Anakmu yang terlalu terlena dalam ragu
Tak berani mengutarakan isi hatiku
Belum berani memilih satu di antara dua itu
Padahal aku tahu di mana separo hatiku menemukan titik temu

Ibu, sudah tak sepantasnya ini kutanyakan padamu
Ibu, hanya maaf, permohonan maaf dariku
Jika aku, belum mampu memutuskan kepastian untukku
Ibu, maafkan aku
Jika sekarang aku ingin pulang, tidur di pangkuanmu
Merasakan belaian lembut tanganmu
Ibu, maafkan aku
Aku hanya ingin menemukan separo hatiku
Untukku, juga untukmu
Ibu doakan aku, agar segera kupastikan pilihanku
Separo hatiku

#di sore hari sehabis hujan, sepulang dari sekolah ilmu alam


Thursday, May 30, 2013

Andai & Jika

Andaikata ya
Andaikata tidak
Andaikan kita berkata ya
Andaikan kita berkata tidak
Andai kita tak berada di antara keduanya
Ya dan tidak
Andaikata kita mampu menempatkan lisan
Andai kita mau membuka cakrawala, membuka pintu lain yang mungkin sama bagusnya
Pintu-pintu yang akan mengantarkan kita pada suatu tempat untuk membaca dunia
Seluas-luasnya
Andai kita sampaikan lisan pada tempatnya
Andai kita mau membuka cakrawala
Jika dan hanya jika
Kita mau melebur jadi abu dalam bara
Jika dan hanya jika
Kita mau memahaminya
Jika dan hanya jika
Kita mau melebur, jadi abu dalam bara
Memahaminya.
“kita”

 >>